Welcome to my "mind palace" and play ground. Find me here!

I just wanna express myself in a positive way ;)

Komposisi Manusia: Sebuah Kontemplasi Singkat tentang Akal, Hati, dan Fisik

Aku kagum terhadap bagaimana Allah menciptakan manusia. Menurutku, komposisi penting yang ada di dalam diri manusia adalah akal, hati, dan fisik. Kolaborasi ketiganyalah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Pantas saja manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling sempurna, karena makhluk lain tidak memiliki ketiganya secara utuh, alias parsial. Dan kesempurnaan manusia pun semakin menjadi ketika ketiganya digunakan secara bijak untuk kemaslahatan banyak pihak.

Akal memiliki fungsi selecting, hati memiliki fungsi verifying, dan fisik memiliki fungsi executing. Ketika ketiganya dikolaborasikan untuk menghasilkan sebuah aksi, maka hasilnya berpotensi memberikan pengaruh besar. Ketimbang sebuah aksi yang tidak jelas asal usulnya, tidak jelas alasannya. Disinilah hebatnya manusia, ia bisa menciptakan banyak hal dan itulah yang menjadikan manusia pantas disebut sebagai khalifatul ‘ardh atau pemimpin bumi. Manusia bebas melakukan banyak hal dengan ketiga bekal yang Allah berikan. Tak ayal sejarah dunia diwarnai dengan hal baik dan buruk. Terlepas dari itu, takdir besar Allah yang sudah ditentukan sejak awal terbentuknya muka bumi. Rencana Maha Besar-Nya yang berakhir dengan sebutan kiamat.

Sedikit berkontemplasi, sejak lulus dari sebuah sekolah menengah atas yang homogen di pedalaman Anyer, aku masuk ke jurusan yang sangat heterogen, sangat plural, baik secara budaya, agama, maupun kepercayaan (karakter atau sifat bagiku adalah konsekuensi logis dari budaya yang diikutinya, sedangkan agama dan kepercayaan merupakan dua hal yang berbeda karena kepercayaan memiliki jenis yang tanpa batas seperti agnostik dan atheis, sedangkan agama secara tatanan sosial sudah terdefinisikan). Di jurusan itu aku terperangah pada apa yang aku temukan, aku bertanya-tanya, bagaimana bisa Tuhan membiarkan manusia mendurhakainya (bagiku saat itu, tidak memiliki agama, berprilaku “menyimpang”, dan sebagainya adalah sebuah kedurhakaan yang tidak dapat ditoleransi), bagaimana bisa Ia membiarkan orang-orang tersebut sukses di jurusan ini.

Terlebih, aku terlampau kaget dengan apa yang aku pelajari, dimana semua hal yang mendominasi sejarah internasional dimenangi oleh orang-orang yang mendurhakai-Nya. Aku menyalahkan tuhan atas “chaotic” yang terjadi. Akan tetapi lambat laun aku belajar menerima dan aku sadar bahwa hal tersebut terjadi karena aku terlampau nyaman dan larut dengan keseragaman di kehidupanku sebelumnya. Aku larut membiarkan akalku didominasi oleh doktrin agama yang secara sadar maupun tidak telah aku sisipkan menjadi candu. Dan sesungguhnya hanya Tuhan yang berhak menghakimi pilihan makhluk-Nya. Tuhan memberikan manusia bekal akal dan hati dan setiap manusia akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Itu saja. Skenario-Nya tersebut yang sangat kusyukuri.

Poin-nya adalah, bahwa akal yang merupakan pintu gerbang kehidupan manusia merupakan hal yang sangat krusial. Ia harus dilatih untuk menjadi kritis, menjadi mampu membedakan kebaikan dan keburukan. Pun dalam kepercayaan, ia harus memiliki argumen logis untuk menjadi landasannya. Akal harus menjadi fondasi dalam bergerak, dan harus dipakai untuk menentukan banyak hal dalam memperbaiki kehidupan. Ibunda seorang temanku secara tegas pernah berkata, “Kalau dari akal saja sudah tidak pas, tidak ada yang perlu diistikhorohi (dalam menentukan pilihan)”. Akal diibaratkan menjadi sebuah dapur dimana terjadi proses memasak. Disitulah kita harus cermat pada bahan-bahan masakan dan output masakan yang kita hasilkan. Selain itu, Rasul menasihati kita untuk menjaga pandangan, pendengaran, dan lisan. Karena ketiga hal tersebut yang menjadi bahan masakan akal kita. Akan tetapi, itulah spesialnya akal, dapat diasah untuk memfilter hal-hal yang tidak signifikan bagi kemaslahatan hidup. Dia mampu bersikap tegas pada nafsu buruk. Lagi-lagi itulah yang membedakan manusia dengan hewan.

Selanjutnya tugas hati, yaitu membenarkan (verifying), Rasul bersabda bahwa kita harus meminta fatwa pada hati, karena hati yang dapat melihat suatu kebenaran yang terselubung. Hati akan bertambah luas jikalau ia mendapatkan asupan ide otak yang bersifat benar. Kebebasan seseorang terletak pada keyakinannya akan kebenaran. Ketika ia berani mati untuk kebenaran. Hal tersebut terjadi jika hati senantiasa diasah untuk memverifikasi suatu rencana tindakan. Ketika hati dilibatkan untuk menguatkan pilihan yang benar (yang tidak berdasarkan nafsu).

Tindakan sebagai eksekutor, selanjutnya menjadi cerminan atas apa yang “disantap” oleh otak seseorang melalui pandangan, pendengaran, dan lisannya. Apa yang katakan dan dilakukannya menjadi gambaran atas apa yang ada di kepalanya. Ketika ia berdampak besar bagi kebaikan, tandanya ia sudah memaksimalkan fungsi akal dan hatinya untuk hal tersebut. Satu hal yang dilarang oleh Rasul, yaitu berandai-andai, dimana akal tidak mampu membedakan ilusi dan realitas, serta menjadi abstrak dan terarah.

“The best way to predict the future is to create it.”  -Peter Drucker

Semoga kita dapat mengolaborasikan ketiga bekal spesial dari Allah untuk menciptakan kebermanfaatan besar bagi umat manusia dan alam semesta. Aamiin yaa Robbal’aalamiiiin.

(Tulisan ini merupakan kontemplasi singkat sejak sekian lama tidak mencurahkan pikiran pada blog ini. Aku sudah memiliki janji dengan seorang sahabat untuk mulai menulis kembali dan mohon dimaklumi karena memang dari buah pikiran yang murni tanpa teori. Sudah harus sangat banyak baca banget sekali nih. Ciao! ;D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 11, 2015 by in Islamicious.

Navigation

%d bloggers like this: