Welcome to my "mind palace" and play ground. Find me here!

I just wanna express myself in a positive way ;)

Kemuliaan Islam

Suatu pagi, sambil duduk santai, aku dan ayah berbincang tentang islam.

Ada satu bagian dari perbincangan itu yang sangat menggebrak batinku.

Aku bertanya pada ayah, “Ayah, mengapa islam saat ini kalah?” Polos sekali, sambil mengingat betapa powerfull-nya Amerika Serikat yang notabene-nya non-islam.

Ayahku, dengan ekspresi senyum skeptis (tetapi sadar bahwa sedang berbicara dengan anak sendiri) menjawab, “Islam tidak pernah kalah! Islam selalu menang! Orang-orangnya saja yang tidak istiqomah dan kalah!”. Tegas dan menghujam.

Aku tertegun.

“Buktinya Yah?”

“Islam muncul di berbagai tempat, bahkan di tempat yang tidak terjangkau. Flores contohnya. Ada pesantren islam yang sangat berkembang.”

Ya, aku memang pernah juga membacanya di sebuah majalah. Seorang ustadz yang memiliki banyak murid penghafal Quran di wilayah itu.

Ayahku benar, islam tidak pernah kalah. Islam selalu menang dengan kemuliaannya. Hanya saja, kita, khususnya aku yang tidak istiqomah menjalankan islam, tidak istiqomah memberikan kinerja terbaik sebagai muslim sehingga islam dipandang sebelah mata.

Di sisi lain, beberapa pembicara publik pernah berkata mengenai kemuliaan islam.

Ustadzah Yasmin Mogahed pernah berbagi pengalaman melalui medsos-nya, perasaan nyamannnya atas pelayanan yang diberikan sebuah hotel di Amerika Serikat. Pelayanan yang berkualitas islam katanya. 

Super.

Aku jadi berpikir, islam memang sesempurna itu walau diterapkan pada hal kecil semacam pemberian pelayanan kamar hotel. Seharusnya kita tidak boleh dikalahkan oleh orientasi kapitalisme dalam meraih kesempurnaan kinerja.

Ustadz Musholli juga pernah berkata:
“Islam tanpa ilmu akan menjadikan sebuah bangsa lumpuh,
ilmu tanpa islam akan menjadikan sebuah bangsa rakus.”

Berislam harus berbanding lurus dengan ilmu yang menopangnya. Ini juga semakin menguatkan bahwa bukan islamnya yang kalah di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia ini (mengacu pada konteks pertanyaan level negara diawal) , tetapi orang-orangnya yang berislam tanpa ilmu. Islam sudah mulia, tetapi kita yang mengaku muslim belum tentu memuliakannya. Jelas ini bukan salah islam. Salah kita.

Teringat juga Ustadz Arif Munandar dengan sangat tegas pernah mewanti-wanti:

“Membuat sebuah acara atas nama islam, kalau tidak sempurna, bubarkan saja! Malu-maluin islam saja.”

Aku sepakat. Sebab islam sudah mulia, jangan dinodai dengan ketidakmatangan tindak kita sebagai representasinya.

Membuat resolusi. Mula diri, keluarga, sahabat, masyarakat, dan negara untuk menonjolkan kemuliaan islam yang sudah ditabur dimuka bumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 14, 2013 by in Stuffs!.
%d bloggers like this: