Welcome to my "mind palace" and play ground. Find me here!

I just wanna express myself in a positive way ;)

Qalbun Saliim

Pernahkah engkau merasakan kesedihan yang berkepanjangan, dimana hatimu serasa sesak, otakmu serasa mendidih, dan nafasmu tersengal-sengal bagaikan baru saja berlari sekian kilometer tanpa jeda?

Kalau ya, cek kembali hatimu, pangkal tubuhmu, mungkin memang ia sedang sakit.

Lalu kalau iya? Introspeksi. Mungkin ada yang salah dengan caramu memandang dan menjalani kehidupan.

***

Sebagian dari kita mungkin pernah atau sedang mengalami kondisi di atas. Dalam level yang berbeda. Dalam kondisi keimanan yang berbeda.

Dan.. Tunggu dulu, tarik nafas. Mari sedikit bertanya pada bagian kognisi kita, adakah masalah yang sedang dipikirkan? Adakah persoalan berat yang sedang dihadapi?

Apapun itu, ada satu bagian dari diri kita yang tidak boleh tersakiti, yaitu hati. Jangan biarkan ia berlarut-larut dalam kesakitan. Sebab, jika ia berlarut sakit lalu rusak, rusaklah keseluruhan tubuh kita. Ketika ia sedikit perih, segera sembuhkan pada pemiliknya, Allaah SWT.

Dengan apa kita mengobatinya? Dengan berdzikir pada pemilik kehidupan, ingat kembali bahwa masalah yang dihadapi, hanyalah sebagian kecil dari hidup kita. Bahkan bersama masalah itu, masih ada kebahagiaan yang terselip. Jangan biarkan masalah itu yang mendominasi kebahagiaan kita lainnya. Menutup potensi rasa syukur kita pada Sang Pencipta.

Baginda Rasulullaah pernah bersabda, di dalam tubuh kita ada seonggok daging, apabila ia baik, baik pula keseluruhan tubuh kita, apabila ia buruk, buruk pula keseluruhan tubuh kita. Seonggok daging itu adalah hati.

Bersyukur, memaafkan, dan memberi. Tiga kata kunci yang dapat melindungi hatimu dari tersakiti. Melindungi diri dari berburuk sangka kepada pemiliknya.

Bersyukur, bahwa sampai dengan detik ini, kita masih diberi kehidupan, kita masih diberi nikmat kebahagiaan. Nikmat bernafas, nikmat berpakaian, nikmat meminum air, nikmat makan, dan berbagai nikmat tak terhingga lainnya.

Memaafkan, memaafkan siapapun yang menurutmu menjadi penyebab kesedihanmu. Manusia tidak ada yang sempurna. Sebab memang karena Kemahaadilan Allaah, tidak Dia ciptakan yang begitu sempurna, dalam setiap diri manusia ada paduan kelebihan dan kekurangan. Dengan kita memaafkan, tandanya kita tidak menunjukkan kekecewaan pada apa yang Allaah sunnahkan.

Dan lagi, hati kita terlalu berharga untuk merasakan kesedihan yang disebabkan oleh manusia, kesalahan yang diperbuat manusia terhadapmu, terlalu remeh untuk kamu rasakan. biarkan Allaah yang mengadili. Cukup doakan kebaikan untuk kita sendiri. Serap kembali energi positif diri. Jangan biarkan terberai oleh hal negatif yang tidak signifikan.

Serta memberi. Kita hidup untuk memberi, sebab, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Memberi tidak harus materi. Yang dilihat dari pemberian adalah keilkhlasan dan niatan dari kita. Sehingga bukan besar kecilnya yang Allaah lihat, melainkan pengorbanan kita untuk memberi. Memberi senyuman pada sahabat yang sedang murung, memberi ilmu pada komunitas belajar, merupakan bentuk pemberian yang imateri tetapi bermanfaat bagi sesama.

Selain itu, dengan memberi, mengajarkan kita untuk melepaskan sifat posesif kita terhadap apa yang sejatinya milik Allaah. Ilmu, uang, rumah, dan lain sebagainya tidak lain hanyalah titipan Allaah kepada kita, atau dapat juga dikatakan sebagai ujian. Dengan memberi, kita menutup potensi kecintaan berlebihan terhadap sesuatu selain Allaah.

Sekali lagi kukatakan, betapa hati sungguh berharga. Bagian paling berharga yang Allaah kirimkan dalam penciptaan manusia. Yang bersamanya, Allaah titipkan berbagai macam potensi perasaan, yang bisa menggerakan atau juga sebaliknya.

Jagalah ia agar tetap bersih dan sehat. Sebab melalui hati yang bersih dan sehat, kita dapat memaknai hakikat hidup dengan lebih bijak. Juga, mengenal pemiliknya dengan sebenar-benarnya. Sehingga masalah yang sifatnya duniawi yang dihadapi, dapat dengan mudah dilewati tanpa menggoyahkan keimanan, tanpa memunculkan kegalauan.

Apa hal yang harus dihindari dari potensi merusak hati? Jawabannya adalah kecintaan pada dunia secara berlebihan. Kecintaan terhadap apa yang kita miliki saat ini lebih dari Sang Maha Pencipta. Kencintaan terhadap sesuatu di dunia seolah-olah itu miliki kita selamanya. Kecintaan terhadapnya seolah-olah kita tidak akan kembali pada-Nya. Kecintaan terhadap sesuatu yang berpotensi menyaingi Dia di dalam hati kita.

Seorang bijak pernah berkata, kita hidup di dunia ini bagaikan sedang menaiki perahu menyusuri samudera menuju sebuah tempat peristirahatan di tepian ujung. Ketika kita biarkan air masuk ke dalam perahu kita, kita akan tenggelam bersama perahu tersebut.

Bisa diibaratkan, perahu itu adalah hati kita, dan samudera adalah dunia. Kita di bumi ini adalah musafir, yang sedang diuji dengan kesenangan dan kesedihan. Hati kita, bagian paling berharga itu adalah alat ‘transportasi’-nya menuju syurga (kampung halaman kita). Ketika kita izinkan dunia masuk ke hati kita, yang sejatinya adalah ‘samudera’ yang harus kita arungi, kita akan tenggelam di dunia bersama hati yang rapuh.

Oleh karena itu, mari senantiasa bersihkan hati, sembuhkan hati dari berbagai penyakit kotor keduniawian. Dengan bersyukur, memaafkan, dan memberi. Sehingga Allaah ridha kepada hati kita, dan mengizinkan kita berada di sisi-Nya kelak. Aamiiin.

Semangat! J

“Illaa man atallaaha bi qalbin saliim” (Q.S 26:89).  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 15, 2013 by in Islamicious.
%d bloggers like this: