Welcome to my "mind palace" and play ground. Find me here!

I just wanna express myself in a positive way ;)

Jualan Part #1 and #3

Pagi itu, Minggu, 31 Maret 2013 aku mengikuti bazar yang ada di dekat rumahku. Kali itu adalah kali pertama aku berpartisipasi pada bazar yang diadakan setiap pekan di dekat Jogging Track komplek perumahan dimana aku tinggal. Aku biasa ke sana, bersama keluargaku untuk berbelanja atau sekedar melihat barang-barang. Namun kali ini aku yang menjadi penjual. Aku menjajakan makanan khas Palembang, yaitu Pempek. 

Di lingkungan tempat aku tinggal, keluargaku memang cukup terkenal dengan keahlian khusus membuat Pempek. Maklum saja, ayahku lahir dan besar di Kota Pempek (Palembang), dan ibuku yang orang Jawa (Magelang) sejak menikah dengan ayah, berusaha keras mengasah keahlian membuat Pempek.

Aku sendiri, bisa dikatakan cukup bisa membuat Pempek, sebab suatu hari, aku diminta oleh sebuah paguyuban kampusku (Forkoma UI Banten) untuk menjadi penyuluh pemberdayaan ibu-ibu rumah tangga di sebuah pedalaman di Kabupaten Pandeglang (Provinsi Banten). Saat itu aku menjadi ‘trainer’ pembuat pempek untuk ibu-ibu tersebut. Mau tidak mau aku harus mendalami keahlian membuat Pempek. Alhamdulillaah semuanya antusias dan hasil pembuatannya ‘not bad’. 

Kembali ke bazar, sebelumnya memang aku sudah sering berjualan Pempek pada teman-temanku, sejak SMA sampai dengan kuliah. Namun aku belum begitu serius mendalaminya sebab kesibukan akademis dan organisasi. Kali ini, aku ‘berkongsi’ dengan keluargaku untuk branding Pempek buatan kami secara lebih masif. 

Aku bertugas menjadi supir dan menjaga Pempek yang dijual. Mbakku (saudara yang bekerja di rumahku) bertugas membuat pempeknya. Jika aku sedang di rumah, ayahku senang, sebab aku dapat menggantikannya mengantarkan ibu dan adik-adikku ke tempat berkegiatan akhir pekan masing-masing dari mereka seperti arisan dan berenang. Sedangkan ayahku, menjalankan hobinya, berkebun. Sebab week days ayahku bekerja, berkebun jadi refresh tersendiri.

Suasana di bazar tersebut sangat ramai, alhamdulillaah. Jualan kami tidak terlalu banyak, baru mencoba minat pasar. Aku mengeluarkan jurus berdagangku. Mau tau apa? yaitu senyuman yang lebar sambil berkata “Pempeknya Bu, Pempeknya Pak, Mas, Mba, Dek”. Haha, mbakku yang menyusul datang dan menemaniku mengatakan aku lebai alias berlebihan. 

Well, menurutku, dalam berjualan, kita harus mengerahkan segala daya agar orang tertarik pada apa yang kita jual dan akhirnya menjadi tidak mubadzir. Sesampainya akhir agenda jualan, Pempek tersisa dua, dan kami mendapatkan uang lebih dari limaratus ribu rupiah. Tidak banyak, tapi lumayan. aku mematok target harus terjual semuanya, tetapi ya apa daya jika bersisa? disyukuri saja. Alhamdulillaah. Sisa dari penjualan itu kami taruh di freezer sebab terkadang banyak tetangga datang ke rumah untuk membeli Pempek.

Sebenarnya, bersama Pempek tersebut, kami juga menjual Siomay dan Tekwan. Semuanya berbahan ikan tenggiri, konon katanya, ikan tenggiri adalah ikan terbaik untuk dijadikan bahan Pempek. Sebab selain omega 3-nya yang tinggi, tekstur daging tenggiri cocok untuk dicampur dan dibentuk dengan aci sagu tani (aci untuk pempek). Membuat Pempek tidak harus dengan aci sagu tani sih, tetapi aci ini dapat menghasilkan Pempek dan Tekwan yang kenyal dan empuk, kalau terigu, bisa lembek dan lengket. Nah, sedangkan Siomay, menggunakan terigu, sebab adonannya juga berbeda dengan keduanya.

Pengalaman ini sangat menyenangkan bagiku, sebab aku bisa bertemu banyak orang dan menyapa mereka, walaupun tidak kenal. Hal ini bagus sebagai sarana latihan menghadapi dunia publik. Menurutku juga, seorang pemimpin harus dapat bersosialisasi dengan baik dengan masyarakat disekitarnya. Selain itu, bertemu banyak orang dapat membuat kita awet muda, hehe.

Ya, itulah pengalaman jualanku yang pertama. Alhamdulillaah, terima kasih Allaah, aku diberikan kesempatan mencicipi kehidupan lain selain kehidupan berkampus di Depok. Bahagia itu terkadang sederhana. 

Di medan perang, eh, agenda berjualan yang kedua, aku tidak ikut, sebab ada kegiatan di Depok yang mengharuskanku untuk tidak pulang.

Di agenda jualan yang ketiga, yaitu Minggu, 14 April 2013, aku kembali ikut berjualan. Sama seperti sebelumnya. Tidak seperti di hari pertama aku ikut berjualan, kali ini, banyak yang belum laku terjual, walaupun memang secara kuantitas, yang terjual sepertinya sama. Sebab kali ini, cukup banyak kami membawa Pempek dan Siomay yang akan di jual, lebih dari hari pertama.

Namun, hal lain yang dapat menjadi penyebab adalah, tanggal 14 itu tanggal tua, banyak pengeluaran yang sudah dialokasikan di tempat lain. Maklum saja, target pasar kami didominasi masyarakat tingkat menengah. Tidak seperti tanggal 31 (hari aku pertama berjualan) dimana merupakan tanggal pasca gajian. 

Setelah berjualan, aku menyalakan Si Abu untuk pulang (Si Abu adalah panggilan untuk mobil kami yang berwarna abu-abu), dan tidak berhasil. Aku stater berulang-ulang, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di mesin mobil kami. Ku coba lagi dan lagi. Nihil. Akhirnya kuminta bantuan bapak-bapak sekitar yang paham terkait otomotif, kami cek accu (aki), dan dari enam ‘lumbung’ accu yang ada, ada satu yang kosong melompong.

Astaghfirullaah, penyebabnya adalah aku lupa mematikan AC mobil ketika menyalakan mesin ‘setengah hidup’. Aku nyalakan agar suasana jualan lebih bersemangat dengan musik, alhasil, musik menyala tanpa kusadari AC pun dalam keadaan menyala. Accu pun menjadi drop.

Tahun ini tepat dua tahun Si Abu dipakai, dan accu sudah harus diganti, tetapi ini hari minggu, aku telpon pihak toyota untuk bertanya, dan tidak ada jawaban dari ujung telepon. Masalahnya, aku dan beberapa orang disekitar sudah mencoba pertolongan pertama pada accu drop yaitu dengan didorong dan permainan kopling, atau dipancingi. Hasilnya pun nihil sebab accu sudah terlalu drop

Ayahku sedang bekerja over haul karena pekerjaan tambahan di pabriknya (ayahku adalah supervisor pembuatan baja di perusahaan penghasil baja Kota Cilegon). Alhasil beliau tidak mengangkat telepon yang kami tujukan padanya.

Aku memohon ampun pada Allaah atas maksiat yang mungkin kulakukan. Serta kesombongan yang mungkin tersirat, dan tersurat dihadapan-Nya. Alhamdulillaah, tidak lama bulikku (tante) yang tidak kusangka datang, tiba-tiba datang, padahal kami tidak menelpon. Pertolongan Allaah sungguh tidakk disangka-sangka. 

Diboncengi bulikku, kami menuju rumahnya itu untuk meminta bantuan omku (suaminya). Kebetulan sekali tetangga samping rumah beliau adalah ahli otomotif yang memang membuka bengkel pribadi.

Aku mendatangi tetangga mereka tersebut, Om Habib namanya, aku cukup kenal baik dengan beliau, ini kali kedua sejak Oktober tahun lalu aku meminta bantuan beliau. Lalu aku menceritakan permasalahan yang terjadi pada Si Abu. Semuanya siap sedia, om suami bulikku memberikanku air accu dan menyusul ke TKP bersama Om Habib. Om Habib membawa dua kabel untuk membangkitkan arus listrik, diujung-ujungnya ada kutub positif dan kutub negatif untuk menyambungkan antar accu. Ternyata ayahku sudah berada di TKP bersama Si Jambrong (mobil tua kami). Akhirnya, Si Jambrong dinyalakan mesinnya, dan accu-nya disambungkan dengan accu Si Abu untuk ‘dipancing’, sejurus kemudian, sambil di stater, mesin Si Abu pun berputar dan menyala, aku menyaksikannya.

Allaah, harga pelajaran sungguh mahal kali ini, aku harus mengikutsertakan banyak pihak untuk menyelesaikan sebuah permasalahan (walau pada akhirnya aku cukup lega dan mendapat pelajaran baru terkait otomotif). Kemudian, kami memberi Om Habib Siomay dan Pempek sebagai tanda terima kasih. 

Kami pulang bersama dengan lega. Aku teringat perkataa Rasulullaah bahwa saudara terdekat kita adalah tetangga kita, mereka yang sesungguhnya harus kita perlakukan dengan sangat baik. Masalah adalah sebuah refleksi kasih sayang Allaah pada kita agar kita belajar lebih rendah hati.

Jualan kali ini, dibarengi dengan sebuah pelajaran otomotif dan pelajaran memilih mutiara yang berkualitas (hal lain yang tersempil saat aku berjualan) yang aku dapat dari penjual aksesoris mutiara lombok didekat tempatku berjualan. Alhamdulillaah.

What next? 

4 comments on “Jualan Part #1 and #3

  1. atikah
    May 21, 2014

    Ya ampun fadlin ada-ada ajaa, hehe. Dulu pernah juga mobil mogok krn aki, Allahu paling ribet ya kalau lagi begitu, apalagi jauh dr bengkel dan mana-mana.😐 Btw aku mauu empek2 dan tekwannya buu!😀

    • khaulahlyn
      May 24, 2014

      Hu umh😄😄😄.. monggo dipesen loh buat ngedate sama suami tercinta :* ;D

  2. Bahtiar
    February 23, 2015

    Saya suka banget tulisan ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2013 by in My Hobbies.
%d bloggers like this: