Welcome to my "mind palace" and play ground. Find me here!

I just wanna express myself in a positive way ;)

My Turning Point

NFBS

Pernahkah Kau seterluka itu sehingga Kau mempertanyakan keberadaan-Nya?

Aku Pernah.               

Lalu mendapat jawaban hatta semencintai itu terhadap-Nya.

Tepatnya saat itu tahun 2005, saat aku terpaksa berpisah dengan orang-orang yang kusayangi, teramat kusayangi.

Nama lengkapku Fadlinnisa Nasution, tetapi di KTP tercantum dengan nama Fadlinnisa saja. Sejak menamatkan sekolah dasar pada 2002, orang tuaku mengirimku bersekolah di sekolah islam berasrama yang terletak di pedalaman wilayah Anyer, Kabupaten Serang-Banten, SMP IT Nurul Fikri Boarding School (NFBS) namanya. Daerah sekolah itu cukup asing bagiku yang terbiasa hidup di komplek perumahan yang berdekatan dengan pusat perbelanjaan dan perindustrian (yang cukup identik dengan keramaian)  Kota Cilegon. Walaupun sesekali orang tuaku pernah mengajakku menjajaki tempat serupa untuk menghirup udara segar,  tetap saja tempat itu asing.

Untuk mencapai sekolah berasrama tersebut, kita akan melwati jalan besar wilayah Anyer yang diiringi panorama pantai sepanjangnya, setelah itu berbelok ke arah bukit, melewati serangkaian sesawahan, hutan, dan pedesaan disisi jalanan menanjak yang berliku-liku. Perjalanan ini cukup menantang para pengguna kendaran bermobil sekaligus menyenangkan bagi penumpangnya. Sekolahku tepatnya berada di pedalaman Desa Bantarwaru, Kecamatan Cinangka. Terbayang ya, kata “Desa” sendiri mungkin sudah mewakili wilayah yang sangat jauh dari peradaban modernitas, lalu sekolahku ada di pedalaman wilayah tersebut. See? Tetapi nanti akan terlihat, betapa “modern”-nya sekolahku, hehe.

Aku adalah anak tertua dan anak perempuan satu-satunya di keluargaku dengan dua orang adik (yang sudah pasti laki-laki). Orangtuaku sangat berjuang untuk menyekolahkanku di NFBS. Ayahku rela pulang pergi Cimanggis-Cilegon untuk mengurus registrasi dan mengantar tesku, serta menyiapkan uang pangkal yang tidak sedikit jumlahnya. Ya, kuakui, masuk ke SMP IT NFBS cukup mahal, terlebih sekarang ada cabang di Lembang -yang setelah kuteliti- jauh lebih lagi mahalnya. Ayahku memiliki harapan agar aku bisa memperdalam pengetahuan islam dan bahasaku. Beliau dengan penuh harap mengatakan seperti ini “Kakak kalau sekolah di sana, bisa mempelajari islam, Bahasa Inggris, dan Arab secara lebih dalam, Kakak bisa jadi diplomat yang islami”. Well, terminologi diplomat agaknya menarik minatku, jadilah kami melakukan deal untuk aku bersekolah di sana. Sejak saat itu aku bercita-cita menjadi diplomat hingga kini aku mengambil jurusan hubungan internasional di UI.

~Sedikit informasi: ayahku adalah pegawai BUMN Krakatau Steel, beliau menjadi supervisor bagian produksi baja. Beliau anak pertama dari sembilan bersaudara dan sudah ditinggal wafat ayahnya sejak SMA. Beliau berdarah Batak-Minang, kakekku bersuku Batak murni dan nenekku bersuku  Minang murni. Namun ayahku besar di Palembang, berkuliah jurusan teknik di Universitas Sriwijaya, dan merantau kerja ke Cilegon. Karakternya disiplin, tegas, berani, dan kreatif. Ibuku juga merupakan pegawai BUMN Krakatau Daya Listrik, beliau menjadi kepada dinas bagian keuangan. Beliau berlatarbelakang akuntansi di YKPN Jogjakarta. Beliau orang jawa asli, ibunya berasal dari Solo dan bapaknya berasal dari Magelang. Ibuku besar di Magelang dan merantau kerja ke Cilegon. Karakternya sangat lembut, mudah bersosial, dan rapi. Beliau cantik sekali. Dua adikku bernama Azmi dan Raka, Azmi saat ini kelas 2 SMA dan Raka kelas 3 SMP. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.~

Sama sepertiku, teman-teman baruku yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia (walaupun mayoritas masih Jakarta) adalah anak-anak lulusan SD yang masih “lucu-lucu”. Kami tidak tahu bagaimana mencuci baju, memasak, dan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Di masa dan tempat itulah kami belajar banyak hal. Belajar bagaimana mengerjakan hal-hal diluar perihal sekolah. Kami juga belajar bagaimana beradaptasi dan memanajemen konflik (dispute management) dengan teman sebaya yang berbeda karakter dan latar belakang yang akan menjadi teman seperjuangan di pagi, siang, dan malam. Pagi kami belajar bersama di kelas, siang kami berkegiatan bersama di alam NFBS, dan malam kami tidur dibawah atap asrama yang sama.

Awalnya bagiku, menjalani kehidupan seperti ini tidaklah mudah. Mengingat sewaktu SD aku adalah anak yang tidak banyak bersosialisasi, dan hanya dekat dengan 4 teman sekelasku. Berjauhan dari orang tua-terutama ibu- yang sangat kugandrungi membuat semuanya semakin tidak mudah. Hampir setiap hari aku menangis dalam dua bulan pertama karena rindu pada keluarga dan dikarenakan hal-hal yang belum bisa kuhadapi sendiri. Walau alhamdulillah, aku ditempatkan sekamar dengan teman-teman yang periang -ketiganya berasal dari Jakarta-, dipandu oleh ibu asrama yang sangat penyayang dan “gaul”, tempatku menceritakan berbagai hal selama awal bersekolah di sana. Sedikit demi sedikit kesedihanku terlupakan.

Perlahan-lahan aku mulai menikmati kehidupanku di tempat itu, pasalnya ada banyak kegiatan menarik yang kulakukan bersama teman-teman santriwati seasrama dan seangkatan yang berjumlah 31 orang. Lima kali sehari kami berangkat dan pulang dari sholat berjamaah di masjid, dari subuh hingga isya, letak masjid sendiri jauh dari asrama tetapi dekat dengan kelas. Setiap sehabis ashar kami pulang dari masjid bersama, berjalan santai sambil menikmati hangat sinaran mentari yang menjingga. kami biasa menanti makan sore yang dibawa oleh petugas piket harian pengambil penanting (baca: makanan-kadang suka kami pelesetkan menjadi pengantin, hehe) sambil piket asrama. setiap habis subuh kami belajar bahasa bersama, dan setiap habis maghrib membaca alma’tsurat dan menghafal qur’an bersama. Selain itu, ada kegiatan organisasi dan ekstrakulikuler yang amat menyenangkan untuk dilakukan.

 Oh ya, letak kawasan santriwati (tholibah) berjauhan dengan kawasan santriwan (tholib) yang dibatasi oleh danau. Tidak ada alasan kami ke wilayah tholib kecuali untuk praktek pelajaran elektro di bengkel elektro (be-el). Pun tholib, tidak ada alasan mereka ke wilayah kami kecuali untuk praktek ke lab IPA atau lab komputer atau acara-acara besar yang diadakan di NFBS. Perjalanan antarkedua kawasan pun cukup menguras tenaga. Kadang kami tidak sengaja bertemu, namun ya hanya sedikit saling melihat. Lagipula ada berbagai peraturan dalam berinteraksi yang dibingkai dengan nilai islam, alhamdulillah.

Sedikit Penjelasan Tentang Nurul Fikri Boarding School

Nurul Fikri Boarding School adalah sebuah sekolah islam terpadu berasrama yang merupakan cabang dari sekolah Nurul Fikri di Cimanggis, Depok. Perbedaan dari kedua sekolah ini terletak pada adanya sistem asrama semi pesantren yang memfasilitasi keseharian siswa dari Nurul Fikri Boarding School. Dalam perihal kegiatan belajar mengajar (KBM), keduanya menerapkan sistem yang sama. Keduanya berada dibawah naungan yayasan Nurul Fikri yang juga mencangkup lembaga bimbingan belajar dan beasiswa. Keduanya juga mengimplementasikan sistem tarbiyah dalam berkegiatan seperti mentoring keagamaan setiap pekan (halaqoh), kajian pergerakan islam, dll.

Tanah yang dijadikan wilayah Nurul Fikri Boarding School adalah tanah seluas 3000 meter persegi yang diwakafkan oleh Bapak Abdussalam yang merupakan warga sesepuh Banten. Sebelum berpulang ke rahmatullah, almarhum memberikan wasiat kepada Bapak Fahmi Alaidrus selaku ketua yayasan Nurul Fikri agar tanah yang diwakafkan tersebut dijadikan wilayah pesantren. Jadilah wilayah itu pesantren Ibnu Salam yang berkolaborasi dengan yayasan Nurul Fikri dalam hal kegiatan belajar mengajar (KBM) sehingga bernama lengkap Pesantren Ibnu Salam Nurul Fikri Boarding School yang kerap disebut dengan NFBS saja.

Wilayah pesantren Ibnu Salam Nurul Fikri Boarding School meliputi bangunan kawasan kegiatan keseharian santri yang diliputi enam danau, satu sungai panjang bernama Citawing, dan hutan hujan tropis. Wilayah Nurul Fikri Boarding School yang hampir 80%-nya adalah hutan, memiliki curah hujan yang cukup tinggi dengan berbagai varietas tanaman dan hewan yang tumbuh dan hidup. Adapun fasilitas yang disediakan untuk kegiatan santrinya adalah fasilitas asrama (dengan beberapa kamar, halaman tengah, dapur, serta ruang serba guna), 2 masjid, 1 mushala umum, 1 saung besar, ruang kelas, 1 lab komputer, 1 lab IPA, 1 lab elektro, 1 mini theatre, perangkat outbond dan kepanduan, 1 lapangan bola, 2 lapangan bulu tangkis, 2 lapangan basket, 1 kolam renang, 1 klinik kesehatan, 1 minimarket, dan 1 ruang musik (tambahan saat ini).

Kegiatan ekstrakulikuler yang disediakan pun bermacam-macam mencangkup silat Tapak Suci, seni (tarik suara, musik, lukis, drama, dll), olah raga, kepanduan, organisasi siswa, dll. Santri bebas mengikuti kegiatan yang disukainya.

Aku dan RIF

Real in For namanya, disingkat jadi RIF. 32 santriwati yang saling mengenal di dalam sebuah asrama dan secara tidak sengaja menjadi sangat dekat satu sama lain melalui berbagai tantangan dan tekanan yang dihadapi, lalu membuat nama persatuan RIF. Memang sudah menjadi tradisi bagi setiap angkatan untuk memiliki nama, lain tholibah lain juga tholib. Nama angkatan tholib adalah Little Namishiro atau disingkat menjadi LN. LN diinsiprasi dari angkatan 2 tholib yang bernama Namishiro, dan agaknya mereka ngefans dengan anak-anak Namishiro tersebut sehingga rela membubuhi kata “little” itu. Kami memiliki common enemy yang kami definisikan sendiri, dan itu yang membuat kami selalu dekat dan senantiasa berkonsolidasi.

Filosofi nama RIF sendiri bermula dari angkatan kami yang merupakan angkatan ke-4 di SMP IT NFBS, saat itu NFBS baruberdiri empat tahun. Real in For, nyata dalam empat. Kami ingin  mengonstruksikan bahwa kami ada, kami eksis, dan aktif berkontribusi sebagai angkatan ke-4. Tantangan kami cukup besar sebagai angkatan ke-4 dimana semuanya masih belum ideal sebagaimana saat ini. Sebagai contoh, jalanan-jalanan di NFBS saat itu masih berupa tanah sehingga ketika hujan (dan sering terjadi), kami harus menjejaki licinnya tanah yang rata-rata menanjak. Contoh lainnya, kolam renang yang disediakan untuk kami, luasnya berskala internasional, namun air yang dialirkan menggunakan sistem distribusi pipa dan berasal dari danau, sehingga kami berenang bersama ikan-ikan kecil, bahkan mungkin bersama binatang lain yang tidak kami sadari kehadirannya seperti biawak atau bahkan mungkin ular. Namun itu yang agaknya menjadikan pengalaman tak terlupakan dari NFBS tercinta. Selain itu, kami dituntut untuk aktif mengikuti perlombaan yang tidak diwajibkan pada santri di angkatan sebelumnya. Itulah yang menjadikan angkatan 4 berbeda.

Aku mencari jati diriku bersama teman-teman ini, banyak sekali hal luar biasa yang terjadi saat kami berinteraksi satu sama lain dan berkegiatan bersama di dalam dan luar asrama. Rasa sayang dan persahabatan terhadap RIF ini tidak pernah bisa pudar dari benak dan hati hingga saat ini. Walau  para anggotanya sudah asyik dengan kehidupan masing-masing, namun sesekali kami bertemu di Jakarta atau NFBS dalam momen-momen tertentu. Selalu, bahagia bertemu mereka. Kebandelan kami masih juga segar diingatan..

Dahulu, kami biasa bangun pukul 4 atau 4.30 saat azan subuh, kemudian langsung bersiap berangkat ke masjid. Kondisi selama perjalanan di subuh itu gelap, dingin namun menyegarkan, dan terkadang licin jika malamnya hujan deras. Kami berangkat bersama karena memang suasananya cukup menegangkan jika sendiri. Melewati hutan bambu dan ruang kelas yang gelap. Namun terkadang jika harus ke kamar kecil agak lama dan tertinggal dari rombongan, terpaksa berangkat sendiri dan pasrah pada apa-apa yang mungkin terjadi, alhamdulillah Allah selalu melindungi. Pasalnya, berangkat ke masjid adalah wajib dalam peraturan pesantren. Hingga saat ini aku merasa hal itu adalah tadribat baik yang diberikan pada santri agar senantiasa bergegas memenuhi seruan Allah dalam berbagai kondisi, dan memasrahkan apa-apa yang mungkin terjadi, serta semakin meningkatkan keyakinan pada Allah subhanahuata’ala Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Setelah shalat subuh, kami membaca al-ma’tsurat bersama lalu belajar Bahasa Inggris dan Arab. Sepulang dari masjid, kami melakukan piket asrama berupa bersih-bersih, bersiap ke sekolah serta sarapan. Lalu kami berangkat ke sekolah, terkadang sambil berlarian menghindari keterlambatan. Sebab jika terlambat, ada sanksi yang cukup berat. Hal yang menyebabkan kami terlambat terkadang terletak pada adanya hal-hal di luar kontrol kami seperti mati air yang menjadikan kami harus mandi di kamar mandi asrama lain atau bahkan di kamar mandi masjid yang akhirnya memakan waktu lebih untuk siap sedia ke sekolah. Namun itu bukan masalah bagi kami, karena sejak awal, kepala pesantren sudah menegaskan untuk fokus pada masalah besar dan tidak terlalu berlarut pada masalah kecil.

Di sekolah, kami belajar seperti di sekolah pada umumnya, dan mata pelajaran kesukaanku adalah Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Ekonomi, Biologi, Elektro, dan Fisika. Terkadang kami belajar di lur kelas beralaskan rumput. Aku sendiri saat itu adalah anak yang tidak terlalu memedulikan peraturan dan sangat suka membuat keramaian di kelas. Ya, kebandelan seperti ini yang kumaksud, sehingga sempat suatu hari, seorang guru menangis karena kami terlalu berisik, ataghfirullah. Tapi kami yang saat itu notabene-nya masih anak-anak, merasa tidak enak, tetapi ya tetap “riang” di kelas. Kami suka jajan di sekolah, dan jajanan itu dibuat sendiri dari pihak NFBS. Aku suka cireng-nya karena unik, bumbunya menggunakan bumbu kacang dan sangat enak, baru kujumpai jajanan semacam ini di NFBS saat itu. Masih banyak hal-hal yang aku dan RIF lakukan bersama yang secara tersirat akan dijelaskan dibawah ini.

 Do’a: RIF, dimanapun kalian berada saat ini,semoga  Allah senantiasa membimbing setiap langk., Semoga kalian juga memiliki kehidupan yang penuh berkah dan manfaat. Aamiiiin.

Masa Beradaptasi dan Hal-hal Unik yang Dilakukan Bersama RIF

Awal di asrama, hampir setiap malam kami melakukan menangis berjamaah, saling curhat, heboh sekali. Tetapi lama kelamaan kami lelah dan justru saling menertawai ketika masih ada yang menangis. Pada akhirnya kami saling menghibur satu sama lain. Ada ketua asrama yang ditunjuk untuk mengoordinir kami, tetapi karena saat itu adalah masa dimana kami susah untuk diatur, ketua asrama pun menjadi “korban”. Ketua asrama juga bertugas membunyikan lonceng untuk shalat berjamaah dan ke sekolah. Seperti ini kira-kira redaksinya “Ukhti-ukhti, ayo ke masjid, …” Awalnya kami protes karena nama kami bukan ukhti, namun setelah itu kami tau bahwa ukhti adalah panggilan untuk saudari perempuan.

Aku lupa tepatnya kapan kami memutuskan bersatu membuat nama RIF, namun kami sempat terpecah-pecah menjadi beberapa genk. Maklum, tidak mudah menerima orang lain yang berbeda karakter. Genk-genk ini memiliki pentolannya masing-masing.. Aku memang merasa lebih nyaman berteman dekat dengan beberapa orang, walaupun aku juga berteman dengan yang lainnya. Sejak awal aku merasa bagian dari kesemuanya, namun hanya cenderung untuk berkumpul dan berdiskusi pada satu pihak saja. Yang kasihan adalah ada teman kami yang cukup unik (seperti yang digambarkan di Numb). Iya sebenarnya adalah anak yang baik, namun beberapa orang yang tidak suka dengannya, membuat semuanya memusuhinya. Aku sendiri masih berteman dengannya walau kadang agak sungkan untuk lama-lama berdekatan dengannya. Sampai suatu hari anak ini pindah.

Itu adalah masa kelam adaptasi di asrama, namun setelah kami saling berbicara dari hati ke hati, kami memutuskan untuk menghapus adanya genk tersebut. Aku merasa sangat lega, walau kecenderungan untuk dekat pada beberapa orang tertentu tetap ada. Namun kami saling tidak menutup diri pada teman lain yang ingin ikut bergabung dalam berbagai agenda kultural. Perihal yang pada akhirnya juga menghancurkan per-genk-an ini adalah diterapkannya sistem ta’akhi yang memasangkan dua orang untuk dipersaudarakan secara acak. Ta’akhi ini seperti yang dicontohkan Rasulullah terhadap kaum Muhajirin dan Anshar dan masih digunakan dalam sistem tarbiyah, terbukti efektif bagi integrasi kami.

Selanjutnya, setiap hari minggu yang merupakan hari libur, kami kerja bakti, setelah itu bermain basket atau berjalan-jalan pagi ke luar NFBS, melihat pemandangan yang menakjubkan. Pemandangan tersebut tercipta karena ada perbedaan dataran. Dataran Desa Bantarwaru adalah dataran tinggi dan pemandangan tersebut adalah dataran rendah. Intinya kami yang dari atas melihat ke dataran rendah yang cukup jauh jaraknya tersebut merasa senang karena ada gradasi-gradasi warna yang diliputi kabut. Indah sekali. Setelah melihat pemandangan tersebut, kadang kami berjalan lagi menuju pantai Anyer, namun karena sangat jauh dan akan memakan waktu lama, kami menyetop mobil bak terbuka yang akan turun ke pantai. Seru sekali. Udara Desa tersebut sangat segar. Apalagi kami duduk di bak belakang mobil, membuat cengkrama dengan angin segar tersebut semakin kuat

Peraturan-Peraturan di NFBS (secara acak dan jauh dari lengkap)

  1. Shalat Berjamaah di masjid atau di RSG masing-masing asrama tepat waktu
  2. Tidak membawa barang-barang yang mengandung unsur pornografi
  3. Tidak menggunakan bahasa daerah
  4. Tidak membawa barang elektronik tanpa sepengetahuan pihak NFBS
  5. Memakai rok untuk santriwati kecuali pada saat tapak suci dan oahraga
  6. Memakai kaus kaki kemanapun pergi
  7. Menggunakan jilbab selama berada di kawasan NFBS
  8. Tidak terlambat ke sekolah
  9. Kuku harus dalam keadaan bersih dan pendek
  10. Rambut bagi santriwan harus rapi dan tidak gondrong di bawah telinga
  11. Tidak pacaran
  12. Menggunakan Bahasa Inggris dan Arab pada tempat dan hari bahasa.

Aku dan Check it Out!

Di NFBS, aku memiliki minat besar dalam hal kesenian, kepanduan, dan olahraga. Ada sebuah grup nasyid yang mewakili setiap kelas, grup nasyid ini khusus menyaimpaikan nilai-nilai islam melalui lagu-lagu islami. Aku sendiri tidak menjadi salah satu anggotanya (tetapi sewaktu SMA iya) dan hanya menjadi simpatisan karena tidak cukup beruntung kalau tidak mau dikatakan belum menguasai teknik tarik suara, hehe.

Namun kesungguhanku untuk bisa tampil bernyanyi tidak surut hanya disitu, aku bersama 3 temanku (bukan teman sekamar) di RIF membuat sebuah grup musik bernama Check It Out! Kami berempat membawa nilai-nilai yang lebih universal, campuran nasyid Indonesia, lagu orisinal sendiri, dan lagu barat. Grup ini tetap terlegitimasi keberadaannya dan diberikan kesempatan untuk tampil dalam beberapa event penampilan seni tholibah NFBS. Sewaktu SD aku sempat mengikuti les gitar dan organ, tetapi karena saat itu di NF tidak ada fasilitas alat musik tersebut, kami menggunakan galon kosong sebagai gendang untuk mengiringi lagu. Suara galon kosong justru sangat keren rupanya.  

Pernah suatu masa, aku sangat nekat membawa kaset lagu berbahasa latin ke asrama, aku memperdengarkannya pada teman-teman, aku menghafalnya walaupun belum mengerti artinya sampai suatu hari ada muallaf berkulit putih datang ke NFBS dan memberitahuku. Teman-teman agaknya cukup takjub dan juga ingin ikut mneghafal lagu tersebut. Sampai akhirnya, Check It Out yang menampilkannya. Seru sekali. I love Check it Out! Walhasil, kami ditegur oleh guru di NF, hehe.

Personel Check it Out!: Dhiya RIF, Fadlin RIF, Iflah RIF, dan Nisa RIF.

Lovable Linkin Park

Di NFBS, mendengarkan lagu barat merupakan larangan keras, sepertinya hingga saat ini. Namun kami –beberapa anak RIF- senang mendengarkan satu grup nasyid Barat, ups, grup musik barat Linkin Park yang berpersonilkan Chester, Mr. Han, dll. Ini salah satu kebandelan aku dan RIF yang tidak bisa kulupa. Kami secara diam-diam –tanpa sepengetahuan ibu asrama- mendengarkan lagu ini di waktu senggang. Namun akhirnya ketahuan karena waktu itu kami menggunakan walkman yang berenergi baterai. Kami kerap menjemur baterai di depan kamar dan itu yang membuat ibu asrama ngeh. Tapi ya beliau hanya mengingatkan secara halus.

Linkin Park atau LP bukan sekedar grup musik ecek-ecek yang terkesan terkesan rebel. Dari namanya, terlihat band ini inovatif dan sangat kreatif sebagai band beraliran musik rock. Musik rock yang diciptakan band ini tidak seperti musik rock pada umumnya, lebih menonjolkan inovasi seni yang tidak monoton. Isi lagu ini pun tentang kehidupan yang membuat kami saat itu cukup berkontemplasi, hehe. Lagu yang paling populer dari band ini saat itu adalah “Numb” yang mengisahkan tentang seseorang yang mendapati dunia tidak bersahabat dengannya padahal ia sangat talented, hanya talent-nya tersebut berbeda dari kebanyakan orang.

Hikmahnya, terkadang banyak orang memandang sebelah mata terhadap orang yang berbeda dari mereka, padahal orang tersebut sebenarnya memiliki added value yang unik dan berpotensi menjadi orang hebat. Pun padahal di mata Allah kita adalah sama, yang membedakan hanyalah taqwa. Oh ya, Walaupun aku suka terhadap Linkin Park, aku juga penggila nasyid Indonesia dan Malaysia Seperti Raihan, Saujana, Snada, Shaffix, Robbani, Gradasi, Brothers, NowSeeHeart, dll, dst, dsb. Btw, mendengarkan lagu barat bisa meningkatkan kemampuan berbahasa asing loh, hehe (pembenaran).

Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Silat sudah menjadi favoritku sejak SD, mungkin sebagai anak pertama, aku memiliki sense melindungi. Sejak kelas 5 SD aku mengikuti karate sampai kelas 6. Saat itu aku anak perempuan satu-satunya di grup latihan dari 10 orang yang berlatih. Aku masih ingat senpai yang mengajari yaitu senpai Ridi dan Yoga yang saat itu sedang  sekolah di kelas 2 SMA tetapi sudah mencapai ban hitam. Walaupun aku perempuan satu-satunya disitu, kekuatan dan kecepatanku kurasa tidak kalah dari yang lain. Aku bahkan kerap melakukan hal-hal yang dijadikan latihan lebih awal dari anak-anak laki-laki lainnya seperti berlari, bergelantungan di tiang, dll. Aku memang termotivasi oleh pahlawan wanita Indonesia di televisi seperti Jaqueline yang sedia menolong orang lain dan bisa mengalahkan laki-laki, hehe.

Menurutku, berlatih silat adalah sarana untuk menyehatkan tubuh dan pembangkit keceriaan, serta yang paling penting, perlindungan terhadap diri, karena waktu itu aku sadar aku perempuan dan perempuan diberitakan oleh media TV menjadi korban kejahatan. Maka aku sadar bahwa aku harus memiliki perlindungan diri dari teman sebayaku yang nakal atau dari orang-orang berbahaya. Tetapi sejauh ini, aku belum pernah mempraktekan silat pada orang lain kecuali pada perlombaan sparing atau pada satu teman laki-laki di kelasku yang nakal padaku. Sejujurnya, dulu aku sangat takut dengan laki-laki, siapapun itu kecuali teman sekelasku, karena aku pikir laki-laki adalah makhluk berbahaya. Tetapi tidak setelah aku masuk NFBS, pandanganku pada laki-laki berubah total.

~Sedikit informasi: Saking takutnya dengan laki-laki yang tidak di kenal, terkadang aku harus mengumpet atau berpindah haluan jalan untuk menghindari berpapasan dengan mereka. Bahkan jika tidak sengaja berpapasan, aku akan menampakan wajah aneh supaya mereka kehilangan ketertarikan terhadapku, haha. Unik Bukan? Bahkan suatu hari aku tidak pulang ke rumah seharian karena ada omku dan sepupu jauhku yang bagiku berbahaya (walau mungkin sebenarnya tidak). How psycho I was!~

Di NFBS tidak ada karate, tetapi Tapak Suci, dan itu wajib untuk seluruh santri. Aku sangat menyukainya karena aku bisa meningkatkan teknik membela diri. Tapak Suci adalah aliran silat dari Muhammadiyah (dan sejak saat itu aku tidak asing terhadap Muhammadiyah dan justru berpandangan positif terhadapnya. Aku juga cukup terkesan dengan Profesor Din Syamsudin. Muhammadiyah juga memiliki fokus besar terhadap pendidikan. Great!).

 Gerakan Tapak Suci sangat menyenangkan. Jurus-jurusnya pun sangat banyak dan aplikatif. Teknik paling dasar adalah katak melempar tubuh, yaitu pukulan ke arah dada lawan. Sedangkan yang paling  sulit adalah teknik gerakan kaki harimau lapar meliuk tubuh atau harimau membuka jalan. Hehe, lucu kan? Kita pun dilatih banyak hal mulai teknik pernapasan, rolling depan-belakang, dan sparing. Kami juga biasa tampil untuk memperlihatkan kebolehan. Saat SMP, hal yang bisa aku lakukan adalah mematahkan batu bata dengan jidat, memecahkan teh botol dengan pukulan telapak tangan, dan pecahan batu empat arah mata angin, yaitu menonjok, menyikut dan menendang depan-belakang patah batu bata dalam formasi mata angin (utara, barat, selatan, timur). 

Setelah 3 tahun menggeluti Tapak Suci di NFBS, aku baru mendapatkan sabuk biru (kader) ketika kelas 1 SMA, sabuk biru tandanya kita diberi legitimasi untuk melatih. Aku mendapatkannya setelah ujian, selama 3 tahun itu ada 6 kali ujian, dan ujian kader ada di ujian ke 7 ketika SMA. Ujian terberat adalah ujian terakhir itu, walaupun di ujian-ujian sebelumnya, kami selalu menghabiskan malam panjang untuk menjelajahi hutan NFBS tanpa beralas sepatu atau sandal, hanya kaus kaki untuk tholibah dan tanpa kaus kaki untuk tholib. Di perjalanan malam itu kami diminta untuk menemukan pos-pos yang disitulah jurus serta kekuatan kami diuji. Tapak Suci mengajarkan untuk selalu yakin bahwa Allah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan untuk tidak meminta kekuatan kecuali hanya kepada-Nya.

Kepanduan, Rock You!

Kepanduan adalah kegiatan untuk melatih ketangkasan santri. Seperti halnya pramuka, kepanduan megajarkan tali temali, sandi-sandi, berkemah, dll. Tetapi selain itu, di kepanduan kami juga diajarkan menembak menggunakan senapan angin, berkuda (tetapi kudanya sekarang sudah mati), dan berenang. Bagiku, kepanduan sangatlah menyenangkan. Terkadang sesekali kami melakukan outbond menggunakan sarana outbond yang ada di NF seperti flying fox, climbing, revling, dll. Alhamdulillah.

Sarana kepanduan sungguh bermanfaat di NFBS, aku sangat merindukannya. Kami juga diajari bagaimana survive di alam terbuka. Contohnya, ketika tidak sengaja terpatuk ular, kita bisa segera mencari kodok dan menempelkannya pada bekas patukan ular tersebut. Hal ini karena kodok atau bisa juga katak bernafas lewat kulitnya ketika di darat, dan ia akan menyerap racun yang ada di patukan tersebut ketika ditempelkan dengan kulit yang dipatuk. Hasilnya, kita bebas dari racun tetapi katak itu akan mati. Allah senantiasa memberikan nikmat untuk manusia dimanapun berada. Selain itu, jika kita kehabisan air minum ketika mendaki gunung, kita bisa menggunakan lumut yang mengandung banyak air untuk diminum, minimal membasahi kerongkongan yang dilanda dahaga.

Pernah suatu hari, ketika kami berlatih revling di sisi tebing di NFBS, teman-teman meneriakiku yang berada agak jauh dari mereka dan pemandu. Saat itu aku mengira sudah giliranku untuk melakukan turun tebing tersebut. Aku berlari ke arah teman-temanku. Rupanya, sebelumnya ada Piyat di belakangku sedang berjalan ke arahku, saat itu aku membelakanginya dan sedang berbicara dengan temanku. Temanku yang sedang berbicara itu berlari terlebih dahulu karena sudah melihatnya, dan aku yang belum sadar bingung melihat kelakuan temanku tersebut. Akhirnya aku ikut berlari menuju teman-teman yang meneriakiku dengan rasa senang karena akan turun tebing. Ternyata aku salah.

Piyat itu adalah orang yang mengidap gangguan kejiwaan, dia adalah warga Desa Bantarwaru. Saat itu dia lepas dari pasungan keluarganya sehingga masuk ke NFBS. Aku kasihan padanya, tetapi alhamdulillah Allah senantiasa melindungiku, aku tidak tersentuh olenya yang kata temanku sudah hampir satu hasta di belakangku. Aku tidak tahu apa jadinya jika dia mencolek atau apapun. Alhamdulillah terima kasih yaa Allah.

Oh ya, kami juga pernah melakukan turun tebing di daerah curug, yaitu air terjun. Wohoo, licin sekali dan airnya deras, tetapi memang keberanian yang diuji, kami turun menggunakan tali dan alhamdulillah selamat, hanya saja aku agak urung untuk melakukannya lagi, hehe.

Our Cockey Sports:Basket dan Renang

Selain hal-hal diatas, basket dan renang merupakan olahraga favoritku. Bersama RIF aku biasa bermain basket dan berenang. Kami kerap bertanding basket dengan angkatan di atas atau di bawah kami atau bahkan SMP lain. Basket menjadi sarana sosialisasi antarangkatan dan sarana konsolidasi. Beberapa pecinta basket yang aku ingat di RIF adalah Reni RIF, Hafni RIF, Nisa RIF, Iflah RIF, Dhiya RIF, dan pastinya Fadlin (aku) RIF. Terkadang, jika kami ingin, kami bermain basket tanpa aturan, yang mana pada akhirnya kami hanya saling berebutan dan melempar bola. Teman-teman RIF lainnya pun kerap ikut. Oh ya, di NFBS, Selain basket, pertandingan lain juga ada, futsal contohnya, tetapi biasanya ada tantangannya, yaitu berfutsal sambil pakai sarung, hehe, lucu sekali.

Seperti yang sebelumnya aku ceritakan, di NFBS ada kolam renang yang sangat besar, tetapi ya itu, airnya berwarna cokelat, tidak seperti saat ini yang mana sudah tertutup dan airnya sangat jernih. Aku suka berenang sejak aku SD, orang tuaku mengursuskanku. Ketika di NFBS, kami biasa lomba renang-lomba renangan. Berenang merupakan aktivitas yang sangat menyenangkan, disamping itu juga sunnah nabi. Hikmah dari berenang setelah aku baca dari sebuah buku berjudul DNA Cantik adalah membuat kita lebih mudah beradaptasi dalam berbagai kondisi. Alhamdulillah.

Kami suka melatih nafas dan berinovasi di kolam renang, misalnya melakukan break dance. Waktu itu aku menemukan satu gerakan menyenangkan untuk dilakukan di kolam renang yang sampai ini masih aku terapkan, yaitu mengangkat kaki ke atas seperti koprol dalam 7 detik, cobalah, sangat mengasyikan dan eksotik jika dilihat dari atas air. Oh ya, kami berenang menggunakan jilbab lho, juga menggunakan kaos lengan panjang, serta celana kargo panjang. Unik bukan?

Ramadhan, Idul Adha, dan Muharram di NFBS

Ber-Ramadhan di NFBS sungguh terasa mengasyikkan. Pasalnya, sebelum memasuki Bulan Ramadhan, santri dan santriwati NFBS melakukan pawai ke kampung sekitar, membagikan bendera atau semacamnya dan mengajak berpuasa Ramadhan satu bulan ke depan. Melalui inilah kami dilatih melakukan syi’ar islam pada warga setempat. Tak jarang kami mengunjungi rumah warga di luar Bulan Ramadhan ketika ada event-event besar islam dan mengadakan acara bersama.

Taujih tentang Ramadhan juga sangat mengena, santri dilatih untuk memberikan taujih di mimbar masjid dan disaksikan santri lainnya. Selain itu, beramadhan di NFBS meningkatkan kedekatan antar penghuni asrama, kami setiap hari di Bulan Ramadhan (sebelum libur) berbuka bersama di selasar masjid. Makanan yang dibuat oleh teteh dapur juga sangat beragam, membuat kami saling bertukar makanan jika tidak suka pada satu jenis makanan. Maklum, setiap orang ada jatah masing-masing sehingga tidak boleh mengambil lebih pada makanan yang disukai. Setiap individu harus menjamin bahwa teman lainnya mendapatkan makanan. Melalui hal ini juga dapat meningkatkan rasa empati terhadap teman seperjuangan.

Ber-idul Adha di NFBS juga sangat seru, dimana kita diberikan taujih yang sangat mengena di lapangan terbuka, melihat potong kurban bersama, lalu masak-masak bersama antarkelompok halaqoh (kelompok ngaji). Begitu juga Muharram, biasanya ada pawai, perlombaan, dan penampilan seni dari santri NFBS. Alhamdulillah.

Next >>

Prestasi santri NFBS

Sistem Halaqoh di NFBS

kekagumanku pada penghafal Qur’an di NFBS

Hebatnya Guru-guru NFBS

“Pertarungan” Santri-guru: Kecapi, Rapiah, dan Durian di NFBS

Malam dan Gemintang di NFBS

Flexible Sleep á la NFBS

Long March: Citawing, You Really Rock!

Disaster: Hari Dimana Aku Terpaksa Berpisah dengan RIF

Deep Contemplation: Are You Real, Allah?

Al-Qur’an Tracking Answer: Oh Yes, You Are The Most Real!

4 Last RIF Members Found I’ve Changed My Self a Lot

Leaving all Bad Thingy(ies): “Smack Down” all Jahil Songs, Behave.

Kehidupanku di SMA NFBS: Vixie, Mentor Asrama, Nafila, DT, LT, Tapak Suci, dan Osis.

Osis Leadership Training Forces Me to do Flying Fox without Safety Tool and to do Nightwalk Lonely

Discipline Team: Nicest Force

Perubahan Cara Pandang dan Prilaku-ku

Leadership Oriented

Pertemuan Kembali dengan RIF

Kehidupan Kuliah

Second Contemplation: Are You All-goodness Allah?

Menjadi Moderat: Itu Kesimpulannya

My Step Grandfather was once a Catholic

Random1: Pendapatku Tentang Orang dengan Gangguan Kejiwaan

Random 2: UIAC, What is That?

Random 3: Love Invention, haah!

Random 4: Cilegon, Let’s Pass This Together!

PPSDMS: Home of Excellence

Idealisme Kami!

Bahasa Arab, I’ll Grab You Back!

My Macro-project Tekwan Ambassador

Ikhwanul Muslimin: You have to read the book, then you’ll love it!

Now, Living Alone is on My Face

My Best Friends and Our Trips

Sisterhood á la PPSDMS

My Own Perspective of Making a Sakinah Family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 28, 2012 by in About Me, Self Contemplation.
%d bloggers like this: