Welcome to my "mind palace" and play ground. Find me here!

I just wanna express myself in a positive way ;)

Iseng-iseng

Paradigma Seorang Science Changer

Saat ini kuingin berkisah tentang apa yang kurasakan sebagai seorang Science Changer. Tapi sebelumnya mungkin perlu kujelaskan lebih dulu apa yang kumaksud dengan Science Changer. Science Changer adalah sebuah term yang kubuat untuk orang yang mengganti minat studinya, dan kali ini kubatasi pada studi ilmu alam dan ilmu sosial. Dan itu adalah aku.

Kisah ini berdasar pada pengalaman pendidikan SMA-ku yang kemudian kuubah ketika masuk ke perguruan tinggi. Sewaktu SMA aku mengambil peminatan ilmu alam, seperti pada kurikulum ilmu alam nasional, aku belajar matematika, fisika, biologi, dll. Aku menemukan pelajaran ini sangat keren dan aku sempat ingin menjadi ahli di salah satu bidang pelajarannya. Menjadi seorang pelajar ilmu alam kujalani sampai kelas 3. Namun lama mempelajarinya, aku merasa butuh belajar hal lain dan justru tidak ingin begitu mendalaminya.

O ya, aku pernah melakukan sebuah tes yang menyatakan aku termasuk anak dengan otak kanan dan kiri yang cukup seimbang, inilah yang membuatku kemudian bimbang, apakah akan mendalami ilmu alam di bangku kuliah, atau mencoba hal lain yang berbeda. Namun akhirnya, Karena kecintaanku pada bahasa dan keingintahuanku terhadap negara-negara di dunia cukup dalam, maka kuputuskan untuk mengambil ilmu hubungan internasional. Sebenarnya pun aku sudah merencanakan menjadi mahasiswa HI sejak SMP. Kepala sekolahku sempat menyayangkan, mengapa tidak kuambil ilmu sosial saja sebelumnya.

Begini awalnya, sewaktu penentuan penjurusan kelas, wali kelasku memberikan pilihan pada dua peminatan tersebut. Aku berpandangan bahwa ketika mempelajari ilmu alam dikelas, aku bisa juga mempelajari ilmu sosial diluarnya. Aku tidak ingin kehilangan untuk tetap mempelajari ilmu alam. Namun ternyata menjalani keminatan pada dua hal sekaligus yang bobotnya hampir sama itu cukup berat. Sampai akhirnya kubulatkan tekad untuk meninggalkan ilmu alam-walau kecintaanku terhadapnya tidak memudar hingga kini- dengan masuk jurusan ilmu hubungan internasional.

Well, disinilah semua bermula, setelah aku berhasil masuk jurusan HI di UI, dapat kukatakan aku memilih untuk berada pada kondisi ekstrem yang berlainan. Mengapa kubilang ekstrem? Karena terasa sekali perbedaannya. Ketika menjadi seorang pelajar ilmu alam, kita lebih banyak menggunakan otak kita untuk menganalisis hal-hal yang sudah jelas terlihat atau terasa dengan panca indera kita sendiri. Kita lebih banyak disibukkan dengan perubahan yang riil dan mengandalkan aspek kedisinian. Apa yang kita pelajari langsung dapat kita praktekkan pada benda-benda atau alam disekitar kita. Sedangkan menjadi pelajar ilmu sosial, kita manganalisis kondisi yang abstrak dan sangat dinamis, yang berkaitan dengan interaksi manusia dengan berbagai sistem yang sifatnya tidak dapat dipastikan.

Hal yang aneh yang kurasakan adalah ketika didalam kelas dosenku mengatakan bahwa mempelajari negosiasi dalam ilmu HI itu seperti mempelajari sepasang orang yang berstatus pacaran. Apa ini, aku sempat mengalami demotivasi ketika belajar di HI, lupa bahwa aku pernah menginginkannya setengah mati. Terlebih aku dibenturkan dengan lingkungan yang serba bebas dan sangat berbeda dengan nilai yang kupunya semasa SMA (lingkungan islami dan santun yang terkondisikan). Menjadi seorang aku dengan sifat dan pemikiran yang begini cukuplah sulit. Ya bagaimanapun aku harus menjalaninya semaksimal mungkin.

Namun kini kusadari, inilah jalanku, justru disinilah aku bisa melakukan banyak amal dakwah. Aku harusnya bisa mempelajari hal lain yang juga berguna untuk masyarakat secara luas. Selain aku mempunyai kerangka berpikir yang lebih sistematis layaknya mahasiswa pada umumnya, aku juga mampu berkata dengan lebih lancar dan jelas tertata. Aku bisa mewakili aspirasi rakyat lewat tulisan dan kata-kata. Tapi hal itu baru kusadari setelah lama bergulat dengan urgensi keberadaanku disana. Aku sadar bahwa setiap kita tidak bisa melakukan semuanya sendiri, justru tidak akan berbuah karya yang berguna. Dan disinilah aku seharusnya berkarya. Tidak peduli bagaimana mahasiswa ilmu alam dan ilmu terapan lainnya berkarya, aku punya caraku sendiri untuk berkarya dan berdakwah ala mahasiswa ilmu sosial. Setiap kita punya kelebihan dan kekurangan, itulah mengapa perbedaan dicipta di bumi ini, untuk saling melengkapi dan menyokong untuk membentuk satu sistem yang kuat. Begitupun keberadaan ilmu sosial dan ilmu alam.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 26, 2012 by in Stuffs!.
%d bloggers like this: