Welcome to my "mind palace" and play ground. Find me here!

I just wanna express myself in a positive way ;)

Alhamdulillah aku menemukan jawabannya! :)

Nama: Fadlinnisa

Resume Training ESQ

Jumat-Minggu, 11-13 November 2011

Trainer: Ary Ginanjar Agustian, Fahrul Jamal, Singgih

Dalam trainingnya, Bapak Ary Ginanjar memberikan gambaran bahwa manunsia memiliki tiga kecerdasan yang penting digunakan dalam mengelola kehidupannya. Kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan intelegensi, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan-kecerdasan tersebut sejatinya sudah ada pada setiap manusia namun tidak semuanya terberdayakan atau digunakan. Kecerdasan tersebut jika digambarkan secara struktural mirip dengan struktur atom yang terdiri dari elektron, proton, dan neutron. Elektron sebagai struktur terluar, ditempati oleh kecerdasan intelegensi yang mana merupakan  kecerdasan berdasarkan fisik manusia yaitu akal yang digunakannya untuk menganalisis suatu kejadian secara rasional. Poisisi proton pada struktur pertengahan ditempati oleh kecerdasan emosional yang berkaitan dengan berbagai emosi (senang, marah, rindu, dll) yang dirasakan manusia. Sedangkan inti atom yang berisi neutron ditempati oleh kecerdasan spiritual yang sifatnya netral. Kecerdasan spiritual ini tidak dapat diraba atau dirasakan namun menjadi motivasi terbesar dalam hidup.

Kecerdasan-kecerdasan tersebut sejatinya harus dilatih dan sifatnya saling berkaitan. Ketiganya harus diolah dan diberdayakan secara sinergis agar tidak ada ketimpangan. Kecerdasan intelegensi tanpa kecerdasan spiritual menjadikan seseorang tidak amanah dalam menjalankan fungsinya terkait kompetensi, misalnya seorang hakim, jika memiliki kompetensi dalam memahami undang-undang tanpa memiliki nilai-nilai yang berasal dari kecerdasan hati seperti kejujuran, maka bisa saja mempermainkan hukum untuk kepentingan pihak tertentu. Begitu juga sebaliknya. Namun begitu, kecerdasan spiritual merupakan inti, maka kecerdasan ini yang harus diperbaiki terlebih dahulu karena berkaitan dengan nilai-nilai yang menjadi pokok dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai yang ada dalam kecerdasan spiritual merupakan nilai-nilai baik yang berasal dari Allah subhanahu wa taála. Pada training ini, ajaran agama islam sangat dikaitkan karena memang ajaran ini bersifat universal dan dapat diterima semua hati jika mengetahui kebenaran isinya.

Pada training ini, tidak semua audience adalah muslim, ada juga penganut agama lain yang turut berpartisipasi, mereka ditekankan untuk menerimanya berdasarkan nilai tanpa ada campuran persepsi dan pendapat pribadi yang bersumber dari penglihatan dan pendengaran semata mengenai islam. Setelah mengikuti training ini, ada satu orang dari penganut agama lain tersebut yang masuk islam dan mengikuti shalat jamaah bersama. Disini terlihat bahwasannya, walaupun manusia mengalami proses hidup yang berliku, namun jika dihadapkan pada nilai-nilai yang baik, hatinya tetap akan mengatakan iya, karena memang Allah SWT sudah menganugerahkan hati pada setiap manusia yang mudah disentuh bagi orang-orang yang senantiasa mensucikannya. Sepeti firman Allah SWT pada surat as-Syams yang senantiasa diulang-ulang oleh trainer karena merupakan penggabungan dari fenomena makro kosmos, mikro kosmos, dan spiritual kosmos. Disitu Allah berfirman Allah mengilhamkan sukma kebaikan dan ketakwaan, beruntunglah bagi yang menyucikannya dan merugilah bagi yang mengotorinya”.

Dari kecerdasan-kecerdasan tersebut sejatinya manusia dapat mengelola kehidupan yang seimbang dan berakhir pada kebahagiaan. Dengan mengaktifkan kecerdasan spiritual sebagai inti, maka kecerdasan intelegensinya akan berjalan sesuai nilai-nilai kebenaran. Hal inilah yang menjadi proses awal dalam training ini. Ketika kecerdasan spiritual tersebut sudah muncul, maka selanjutnya manusia dihadapkan pada beberapa aksi konkrit yang berkaitan dengan kecerdasan intelegensi. Pengaruh dari kecerdasan spiritual ini juga berdampak pada kecerdasan emosional juga yang menjadikannya lebih tergerak untuk merasakan hal-hal yang baik untuk dilakukan dan hal-hal buruk untuk diperangi. Hal ini berhubungan dengan hadits nabi mengenai keimanan, bahwasannya keimanan dapat diukur manakala seseorang tergerak untuk memerangi hal buruk.

Seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan bahwasannya nilai-nilai yang dianggap baik tersebut bersumber dari asmaul husna milik Allah yang terdiri dari 99 nama. Namun dalam training ini, ada 7 nilai pokok yang dapat diterapkan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut adalah jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli. Nilai-nilai ini juga menjadi nilai pokok dari bangsa Jepang yang menerapkan Bushido  dalam kehidupan sehari-hari yang ternyata tidak jauh berbeda dari nilai yang terkandung dalam surat al-fatihah. Selain itu, 7 nilai yang diambil dalam training ESQ ini juga merupakan hasil dari proses shalat kita. Dalam shalat kita melakukan proses jujur, yang mana berkaitan dengan jumlah rakaat dan kekhusyuan, tanggung jawab terhadap bacaan dan keberhasilan shalat kita, visioner pada akhir shalat yang merupakan ibadah sekaligus penyucian dosa, disiplin untuk taat mengerjakan gerakan-gerakan shalat yang sesuai, juga kerjasama ketika berjamaah, adil dan peduli dalam doa yang disampaikan. Itulah mengapa Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat adalah tiang agama, dan Allah pun menguatkan dalam surat al-mu’minuun bahwasannya barangsiapa mendirikan shalat maka ia akan tercegah dari hal-hal munkar.

Kecerdasan spiritual menjadi salah satu yang kecerdasan yang sangat diperhatikan dalam training karena menjadi inti dari segala kecerdasan. Kecerdasan spiritual mengambil andil terbesar dalm hidup manusia, 80-90% keberhasilan manusia dipengaruhi oleh kecerdasan spiritual yang diejawantahkan dalam attitude Kecerdasan spiritual juga sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam refleksinya di dalam gua yang mana teorinya adalah kita harus menarik diri kita jauh ke atas sehingga dapat menjawab pertanyaan siapakah kita, untuk apa kita diciptakan, dan kemana kita akan kembali. Beliau membawa jiwanya pada sebuah ketenangan di dalam gua yang dari sana ia dapat melihat ke arah leingkungan hidupnya sampai pada saat Jibril datang dan membawa pesan dari Allah (al-Álaq 1-5). 3 pertanyaan yang ada dalam mediasinya tersebut menjadi refleksi diri yang pada akhirnya bisa memaknai dan mengetahui tujuan hidup. Dari situ, kita dapat mengetahui bahwa tujuan besar kita diciptakan adalah untuk beribadah pada Allah, dan kita diberikan amanah menjandi pemimpin di dunia yang mana jika diejawantahkan dapat menjadi pemimpin publik, pemimpin sektor privat, dan pemimpin sektor ketiga, atau bahkan memimpin diri sendiri.

Jika diejawantahkan dalam sektor-sektor tersebut, seni memimpin adalah mengetahui visi dari sektor yang kita pegang, diperkuat dengan nilai-nilai yang harus digenggam dalam tim, serta kepercayaan dalam tim. Untuk mencapai itu semua sebagai individu yang berada didalamnya, kita harus memiliki kecerdasan spiritual sehingga dapat diterapkan pada lingkungan yang selanjutnya menjadikan lingkungan tersebut kondusif dan sesuai syariatNya.

Training ini bernuansakan dunia pasca kampus karena audience-nya mayoritas adalah pekerja atau ibu rumah tangga. Oleh karena itu, contoh yang sering diberikan adalah situasi pada saat di lingkungan kerja atau lingkungan keluarga. Juga dalam hal menyadarkan makna kepemimpinan, maka contoh yang diberikan adalah pada dua lingkungan tersebut. Sedikit contoh, pada training ini, dijelaskan beberapa tipe karyawan berdasarkan penelitian.

Kecerdasan emosional ditentukan oleh seberapa besar kita memahami rukun iman, dengan adanya kesadaran akan rukun iman yang didorong oleh kecerdasan spiritual kita kita dapat melaksanakan segala hal dengan sempurna. Ada beberapa prinsip yang dapat menjadikan diri kita cerdas secara emosi, pertama star principle yang menggerakan seseorang berdasarkan ketakutannya akan Allah SWT, kedua angel principle yang menggerakan seseorang karena sadar bahwa sesuatu yang buruk harus diubah dan sadar bahwa ada dua malaikat yang sentiasa mencatat. Ketiga, leadership principle yang menjadikan seseorang melakukan sesuatu karena sadar bahwa dirinya memiliki tanggung jawab, learning principle yang menjadikan seseorang melakukan sesuatu karena ingin meminta maaf, Vision principle yang menjadikan seseorang bergerak karena sesuatu tujuan yang diinginkan, selanjutnya adalah well-organized principle yang menjadikan dia bergerak karena ada situasi-situasi yang terus berubah.

Kecerdasan intelegensi dilakukan dengan pertanyaan misi yang berasal dari spirit dan emosi yang dirumuskan, pembangunan karakter yang digunakan untuk mencapai misi, aksi total yang menjadikan proses lebih bermakna, kolaborasi strategis untuk mencapai misi bersama (dengan lingkungan sekitar), dan self controlling yang menjadi pagar untuk memacut seseorang dalam menjalankan misi. Semua itu terangkum dalam rukun islam yang berisikan syahadat yang mana merupakan pernyataan sumpah setia kita pada Allah dan menjadikan Allah satu-satunya tujuan dan semua misi bermuara padaNya, shalat merupakan pembangunan karakter karena didalamnya kita mempelajari banyak kebaikan (7 budi utama yang sebelumnya dijelaskan), zakat yang menjadi kolaborasi strategis, puasa yang menjadi self controlling, dan haji yang menjadi aksi total kita.

Semua itu jika kita kolaborasikan dengan tetap menomorsatukan Allah sebagai tujuan, menjadikan kita pribadi yang memiliki integritas yang membawa kita pada kebahagiaan dan kesuksesan dunia akhirat. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 18, 2011 by in Islamicious.
%d bloggers like this: